24 March 2011

Piagam Pakta Integritas

SUMPAH JANJI DAN PAKTA INTEGRITAS

Bagi Anda yang berstatus PNS alias Pegawai Negeri Sipil tentu pernah diambil sumpah dan janjinya. Betul ? Yah meski kadang pengambilan sumpah dan janji itu hanya formalitas belaka tetapi hakekatnya apa yang terucap apalagi dengan landasan atas nama Allah tentu saja bukan hal yang main-main. Manusia itu diciptakan Allah, tak kuasa apapun kecuali dengan ijinNya. Masak sumpah yang mengatasnamakanNya hanya buat pantes-pantesan. “Ra elok !” kata Orang Jawa. (ra elok= tidak baik). Ah mungkin sumpah itu sudah sekian lama, sekarang tak ingat lagi. Mari coba saya segarkan memori kita. Sumpah itu kira-kira berbunyi begini “

“ Demi Allah, Saya bersumpah :

Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah;

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab;

Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah dan martabat Pegawai Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan:

Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib , cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara “

Garis bawah pada kata-kata tertentu itu pemberian saya. saya ingin mencoba mengajak instropeksi, merenung massal sebanyak yang bisa saya ajak. Mengajak pada kebaikan bukankah hal yang baik juga? Tidak bermaksud patriotis, sok ustad-tis (heh..apa ini, ?), hanya mengingatkan terutama pada diri sendiri.

Jika ada waktu luang coba cermati apa kesan masyarakat terhadap pegawai negeri sipil? Jawabannya bisa ditebak, sekitar; enak, nyantai tetap digaji, sering bolos, kurang disipilin. Bahkan saya pernah membaca surat kabar dengan judul beritanya PNS masih banyak yang TBC (tidak bisa computer). Di dalamnya disebutkan PNS masih kental dengan penyakit KUDIS (kurang Disiplin) dan….

Kalau mau jujur sebenarnya apa yang ditulis itu benar adanya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan bangga pada pribadi-pribadi PNS yang kompeten, beretos kerja tinggi dan taat disiplin, masih banyak PNS yang berlaku tidak sesuai dengan yang diharapkan. Datang siang, tidak bisa diandalkan, kurang tanggap, bahkan minim kinerja karena presensiya bolong-bolong.

Saya gemes lihat begini, karena sebenarnya kualifikasi mereka tidak diragukan, rata-rata dari lulusan perguruan tinggi. Namun agaknya saya harus sedikit kecewa, saya membayangkan kualitas pribadi-pribadi lulusan PT itu tentu kompeten, bahkan mungkin bisa diandalkan sebagai seorang konseptor, etos kerja tinggi dan karakter-karakter bagus yang memang seharusnya ada pada seorang sarjana. Ternyata Pucuk tak cinta, ulam tak tiba…he..he. Bahkan seorang atasan pernah mengeluh tentang pegawai barunya yang hanya datang, duduk, diam, baca-baca, kalau tidak dijawil, ini lho pekerjaan, tidak bergerak. Ternyata inisiatif yang diharapkan dari seorang pegawai untuk segera mencari tahu jika telah ditempatkan, apa tupoksinya, bagaimana seharusnya tugasnya, tidak ada.

Ternyata sumpah dan janji saja tidak bisa menjadi pegangan pengingat jika tindakan indisipliner dan ogah-ogahan mulai menjadi kebiasaan. Secara yuridis ada peraturan yang mengharuskan PNS berbuat begini dan dilarang begitu. PP No 53 Tahun 2010 adalah produk hukum terbaru bagi Disiplin Pegawai. Tapi semua kewajiban dan larangan serta sanksi-sanksinya hanya akan menjadi macan kertas jika law enforcementnya nggak jalan.

Pakta Integritas

Ada contoh bagus sebuah upaya untuk memberdayakan PNS, mengingatkan lagi komitmen seorang pegawai. Di Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ada yang namanya pakta integritas.

Definisinya begini; Pakta Integritas adalah pernyataan/janji kepada diri sendiri tentang komitmen untuk melaksanakan segala tugas dan tanggungjawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam modulnya, Pakta Integritas dimaksudkan dilaksanakan dalam rangka Good Government pada lingkup pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Diharapkan dengan menandatangani Piagam Pakta Integritas yang bermeterai itu bisa mencegah terjadinya penyimpangan dan perbuatan pidana seperti korupsi, contoh mark up, suap, pungutan liar dan lain-lain. Meningkatkan kredibilitas dan mendorong kelancaran pelaksanaan program kerja yang berkualitas,efisien dan efektif.

Saya setuju dengan substansinya, dimana pegawai berkomitmen sbb :

  1. Tidak melakukan KKN, dan perbuatan tercela
  2. Tidak meminta/menerima pemberian langsung/ tdk langsung berupa suap, hadian, bantuan/ betuk lain yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
  3. bersikap transparan,jujur, obyektif, dan akuntabel dalam pelaksanaan tugas;
  4. menghindari pertentaga kepentingan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Masih ada lima lagi, dimana salah satunya berbunyi Komitmen untuk melaksanakan penerapan kebijakan, penghargaan dan sanksi (reward and punishment) secara konsisten. Yang ini kalau benar-benar dilaksanakan, Insyaallah akan jadi motivasi bagi pegawai untuk bertindak disiplin. Tentang mekanisme sanksinya jikamelanggar komitmen dalam pakta integritas silahkan baca di Modul Pakta Integritas.

Saya cuplikkan salah satu point komitmen dalam piagam pakta integritas seorang Menteri tersebut :

1. Menggunakan segala potensi yang saya miliki untuk mempercepat pemberantasan korupsi di Indonesia sesuai Insprtuksi Presiden No. 5 Tahun 2004;

Membayangkan jika semua pegawai dapat dan konsisten menggunakan segala potensinya untuk mendukung pelaksanaan kebijakan dan memajukan instansinya/ pemerintahnya, sungguh PNS tak lagi jadi bahan gunjingan akibat kinerjanya yang dipertanyakan.

No comments:

Post a Comment